Skip to main content

Short Solo Trip to Africa van Java

HALO!!
Sudah lama sekali blognya nganggur wkwkwk karena udah gak sempet nulis-nulis lagi selain nulis LAPORAN PRAKTIKUM HEHE.
Tapi Alhamdulillah lagi libur jadi lumayan longgar lah yaaaa. Jadi, kemarin tanggal 1 Juli 2019 aku solo traveling ke Malang dan Africa van Java. Tau gak sih Africa van Java itu apa? Africa van Java itu sebutan untuk Taman Nasional Baluran (TNB) di Banyuwangi karena mirip banget sama di Afrika. Sebenernya udah lama banget pengen ke TNB ini, karena beberapa hal jadinya baru kesampaian tahun ini HAHAHA. Perjalanan ini benar-benar kulakuin sendiri, gak ada saudara di Malang ataupun Banyuwangi. Bentarrr sebelum cerita soal perjalanan bisa sampai ke TNB, aku mau ngoceh dikit ya wkwkw.
Awalnya sempet gak yakin alias ragu mau solo traveling ke Banyuwangi ini, terus sebelum tanggal 1 Juli itu mikir terus sampe pusing, beneran waktu itu pusing. Akhirnya googling tentang solo traveling ke Banyuwangi, bacain cerita-cerita orang dannnn bismillah. Ets, tapi habis itu masih mikir lagi sih hehe. Terus dapat kesimpulan, kalau banyak mikir itu malah gak jadi. GASS LAH JADINYA. Intinya kalau mau pergi jangan kebanyakan mikir. Tips solo traveling dari pengalamanku (haha sok banget ye) yang sebenarnya masih sangat newbie: (random)
Niat dan keinginan.
Tentuin mau ke mana: kota atau daerah mana.
Yakinin diri dan mental. Yakin kalau kamu bisa. 
Mikir, tapi jangan kebanyakan mikir. Mikir apa sih? Ya mikir berani atau enggak dan mau kemana aja. Jujur aja aku gak begitu mikirin tujuan selain tujuan utamaku ke TNB hahaha. Maksudnya, tujuan kemana aja enggak aku rencanain sebelum berangkat, ya tiba-tiba aja pas udah sampai sana. Tapi kalau tujuan kemana ajanya udah direncanain mungkin lebih bagus sih. Kebanyakan mikir jadi ragu ya, ingat.
Meski gak mikirin tujuan banget, tapi perencanaan lumayan penting. Perencanaan apa? Ya kaya mau naik apa, sampai sana jam berapa, di sana naik apa, mau nginep dimana, susah gak ya cari makan, banyak kendaraan umum atau ojek online gak ya, pokoknya sejenis kaya gitu.
Izin orang tua. PASTIIN DULU ORANG TUA NGIZININ YA HEHE.
Sudah ada dananya. Iya uang untuk dolanmu pastikan sudah ada. Jadi di dolan ini aku gak minta uang sama sekali ke orang tua dan mereka juga gak ngasih wkwk. Ya aku bilang mau dolan, mereka oke, ya udah. Dapat darimana uangnya? Uang ini sudah kupersiapkan sejak hari pertama masuk kuliah tahun lalu, aku nabung Rp5.000 rutiiiin setiap hari, harus rutin ya RUTIN RUTIN RUTIN. Gak mesti Rp5.000 sih, kadang juga lebih. DI SINILAH letak kebanggaan, melalukan hal yang membuatmu bahagia dengan usahamu sendiri.
Jangan bawa banyak-banyak uang didompet, tapi cukup. Hah gimana? Pokoknya secukupnya aja.
HARUS BAWA AIR MINUM TERUS dan INTINYA JANGAN TAKUT.

Sebenernya ini bukan perjalanan solo pertamaku, dimulai tahun 2015 (umur 14-15 tahun) untuk pertama kalinya aku ke Jakarta sendiri naik kereta. Nah, sejak itu jadi sering keluar-keluar kota sendiri. Sebelum itu juga, memang karena aku sering ngelakuin apa-apa sendiri jadi yaaaaaa oke dengan perjalanan solo. ETS, aku tidak anti sosial atau gak punya temen hahaha ya entah kenapa enak aja pergi-pergi sendiri. Aku introvert ya? TAPI GAK ANTI SOSIAL kok.
LAH INI KAPAN CERITANYA? 
Bentar, mau repost tulisan (caption) di salah satu video yang diupload @masukugm tanggal 13 Juli 2018. Jadi tuh, caption ini bener-bener yang aku lakuin selama ini (curhat sedikit mengenai dunia pengintrovertanku). MUNGKIN KITA SAMA?
Merenung
Pernahkah kau merasa butuh untuk menyendiri? Menyepi tak ditemani. Sendiri menyusuri kota, berjalan merenung tatkala malam menyelimuti.
Atau siang hari dimana kau dengan sengaja berpergian ke tempat umum, berbaur dengan orang yang berlalu lalang namun pikiran dan jiwamu sendiri, tak terusik sama sekali.
Atau dengan sengaja berkunjung ke toko buku sendiri, tak terdistorsi oleh dimensi ruang, hanya dirimu, pikiranmu dan bertumpuk-tumpuk buku. Surga pribadi.
Atau menonton film ke bioskop sendiri saat di sekelilingmu orang berpasangan, berkumpul bersama teman dan keluarga, namun kau nyaman hanya dengan dirimu sendiri.
Atau berkendara perlahan, menengadahkan wajah dan telapak tanganmu tersapu angin dan gerimis hujan. Hanya ada senyum dan berjuta pikir tak bertepi.
Atau bersantap seorang diri, tatkala sekitar berkumpul bersenda gurau ramai, sementara kau hanya ada dengan dirimu, dan ide-ide segar tak terkendali. Di sudut ruangan yang kau pilih, sudut ruangan yang paling sepi.
Atau sekedar berjalan-jalan sendiri melihat barang-barang yang ingin dimiliki, berpuas diri hanya sekedar melihat tanpa mampu membeli.
Kau punya banyak teman, kau luwes bergaul, banyak orang mengenalimu. Hanya saja kau punya ruang dan waktu sendiri dimana kau menghendaki sebuah spasi.
Sekali coba akan terus membuatmu haus.

Baiklah ini cerita perjalanan ke Africa van Java...
When you are traveling with someone else, you share each discovery, but when you are alone, you have to carry each experience with you like a secret, something you have to write on your heart, because there is no other way to preserve it – Shauna Niequist

Tanggal 29 Juni 2019 aku reservasi tiket kereta dari Yogyakarta (YK) ke Malang (ML) untuk keberangkatan tanggal 1 Juli 2019. Awalnya mau langsung pesen dari YK ke Stasiun Karangasem Banyuwangi (KNE) tapi udah habis semua. Ya jadinya ke Malang dulu. Naik kereta Malioboro Express 94 (via Traveloka) berangkat tanggal 1 Juli jam 07.45 sampai Malang jam 15.43, dengan harga tiket Rp170.000 + Rp7.500 (biaya layanan) dan pas ada promo diskon jadi Rp159.579. Sampe Malang aku pesen ojek online untuk menuju ke hostel, aku nginep di Woodlot Hostel Jl. MGR Sugiyopranoto No 3A, Malang, harganya Rp85.096/malam (via Tiket.com), jadi hostelnya bentuknya kapsul tingkat kaya di asrama-asrama gitu. Satu ruangan diisi beberapa orang. Lumayan bersih, dingin, kamar mandi bersih, gratis sarapan, ada sandalnya, gratis kopi dan teh 24 jam.


Woodlot Hostel
Nah di Malang aku berencana nyewa motor, sebelum tanggal 1 Juli aku menghubungi pihak hostel, mereka nyediain sewa motor atau enggak terus katanya bisa nanti sama resepsionis. Pas sampe di hostel itu, aku tanya terus kata resepsionisnya intinya suruh nyari sendiri huft. Sedikit panik gitu ya karena udah sore dan mendadak jadi kemungkinan dapat sewa motor itu kecil. Pas udah masuk kapsul, aku langsung nyari-nyari tempat sewa motor di Malang, udah ngehubungin banyakkkk banget tempat sewaan motor, jawabannya udah full slow respon. Sampe akhirnya dikasih nomor sama salah satu sewaan motor yang kuhubungi (yang penuh) katanya mungkin aja masih ada. Terus akhirnya langsung aku hubungi dannn fast respon hehe, waktu itu yang ready Vario 150cc Rp85.000/24 jam, sewanya di Mas Putut (@parapapa_transport) WA: 0819 4599 9245, sangat fast respon dan motornya langsung dianter ke hostel. Oya, pakai jaminan ya sewanya, harusnya pakai KTP tapi karena KTP-ku masih dibawa resepsionis akhirnya pakai KTM, masnya ini baik. Basecamp sewaan motornya deket sama Stasiun Malang.
Setelah dapat motor, mulai googling-googling tempat makan di Malang, dan memutuskan untuk ke Hok Lay 1946 dan Ronde Titoni 1948. Jadi di Hok Lay itu ada minuman yang cukup terkenal, namanya Fosco harganya Rp13.000 disajikan dibotol Coca-cola gitu, terbuat dari susu dicampur coklat. Pas sampe sana harus nunggu dulu karena waiting list kursinya penuh, tempatnya kecil. Akhirnya memberanikan diri gabung sama mbak-mbak gitu. Aku pesen lunpia goreng Rp20.000 (isi dua) sama Fosco.
Hok Lay 1946
Oya, semua perjalanan dengan motor ini dibantu oleh Google Maps ya wkwkwk. Habis dari Hok Lay aku ke Ronde Titoni 1948, di Ronde Titoni menunya ada ronde basah, ronde kering, wedang asle, camilan-camilan, dan lain-lain. Aku pesen ronde basah harganya Rp10.000, duduk sendiri terus tiba-tiba ada ibu-ibu se-keluarganya izin gabung karena tempatnya kecil dan waktu itu penuh, tapi sih emang rame banget itu tempat. Jahe dari kuah rondenya kerasa bangetttt, lumayanlah karena pas itu kedinginan.
Ronde Titoni 1948
Setelah dari Ronde Titoni, muter-muter sekitar Alun-alun Malang sebentar terus balik ke hostel. Sampe di hostel mulai mikir mau kemana besok paginya. Terlintas ingin ke Bromo hahaha, udah nyari-nyari cerita orang-orang ke Bromo, udah cek jaraknya dari hostel, tapi ragu. Banyak pertimbangan. Terus cari alternatif lain kalau gak jadi ke Bromo, yaitu ke Pantai Balekambang, dan sebenernya udah ada tujuan pasti sih yaitu ke Kampung Warna-warni Jodipan. Besok paginya, sekitar jam 06.15 WIB siap-siap buat pergi. Masih bingung mau ke Bromo apa pantai. Teringat prinsip jangan banyak mikir, akhirnya ke Pantai Balekambang. Dari hostel ke pantai sekitar dua jam-an.


Pantai Balekambang
Lumayan sih pantainya, harusnya ada retribusi masuk tapi pas itu aku gak disuruh bayar. Gak tau kenapa. Di sana terhitung sebentar, soalnya aku gak suka main air di lautan hahaha, ya cuma menikmati angin aja sama gradasi warna air. Lumayan rame juga di sana dan banyak warung (tapi waktu itu masih pada tutup). Langsung balik ke hostel karena sekalian mau check-out. Jadi aku di Malang cuma sehari, sorenya jam 16.05 WIB naik kereta menuju Stasiun Karangasem Banyuwangi. Habis check-out aku makan siang karena gak ngambil sarapan di hostel, terus gas ke Kampung Warna-warni Jodipan. Harga tiket masuknya Rp6.000 (parkir 1 motor dan 1 orang), dapat dua gantungan kunci juga.


Kampung Warna-warni Jodipan     
Siang-siang jadinya panas banget, tapi rame juga di Kampung Warna-warni Jodipan terutama di Jembatan Kaca. Dari parkiran motor, jalan kaki keliling kampung. Ketemu sama mbak-mbak yang lagi solo traveling dari Belanda, keren. Di sana ada beberapa penjual makanan juga. Habis dari Kampung Warna-warni langsung ke daerah Stasiun Malang untuk balikin motor dan siap-siap ke Banyuwangi. 
Tanggal 2 Juli 2019 naik kereta Tawang Alun 205 Malang-Karangasem jam 16.05 WIB dan sampe Banyuwangi jam 23.34 WIB harga tiketnya Rp62.000 (via Traveloka)

dan Karangasem-Malang tanggal 4 Juli 2019 jam 5.15 sampe Malang jam 12.35 WIB naik kereta Tawang Alun 206 harga tiketnya Rp62.000 (via Traveloka) totalnya Rp62.000 x 2 + 15.000 (biaya layanan) – Rp13.900 (promo diskon) = Rp 124.999. Di kereta duduk di deket dua mbak-mbak yang asli Banyuwangi, mereka kuliah di Malang. Nah terus dia mempromosikan wisata-wisata dan kuliner di Banyuwangi hehehe.
Sebelumnya aku udah pesen homestay di depan Stasiun Karangasem, karena sampe Banyuwangi malem jadi nyari yang deket stasiun dan ini homestaynya bener-bener di depan stasiun (di dalam stasiun). Pas di sana baru tau juga, kalau ojek online dilarang masuk stasiun. Jadi lumayan susah kalau gak nginep di deket stasiun ini. Nama homestaynya Subur Homestay, dapat informasi homestay ini dari bacain cerita backpacker. Subur Homestay ini punyanya Ibu Dewi, WA nya: 0852 3615 5003. Di sini juga nyedian sewa motor, jadi sekalian aku sewa motor di sini. Aku check-in tanggal 2 Juli jam 12 malam dan check-out tanggal 4 Juli jam 5 pagi. Subur Homestay Rp75.000/24 jam dan sewa motor Rp75.000/24 jam. Kamarnya lumayan gede dan sebenernya bisa buat rame-rame, ada kipasnya tapi rusak, kamar mandi kecil dan agak kotor.
Paginya, tanggal 3 Juli sekitar jam 06.30 WIB aku udah siap buat ke TNB. Tapi ternyata motornya belum siap, dan akhirnya berangkat sekitar jam 07.00 WIB lebih. Yap, bermodalkan Google Maps, dari Stasiun Karangasem ke TNB sekitar 1,5-2 jam. Sepanjang perjalanan ke TNB pemandangannya bagus banget, nglewatin Pelabuhan Ketapang dan Selat Bali. Tapi habis itu ada sedikit cerita menyedihkan hahaha.
Jadi kan udah pakai Google Maps ya, aku liat dua menit lagi sampe TNB, dan bener aku baca tulisan "Anda Memasuki Kawasan Taman Nasional Baluran". Tapi karena pintu masuk TNB itu pas di tikungan naik gitu, aku gak lihat HAHAHA. Aku lurus naik ke tikungan di kiri, masuklah ke hutan jati-jati. LEBAT SEPI. Isinya yang lewat truk-truk gede, agak ngeri sih. Jadi aku beranggapan pintu masuk TNB nglewatin hutan jati ini dulu, eh pas aku jalan udah lama banget gak ketemu-temu sama pintu masuk TNB, ada orang-orang lagi nglebarin jalan juga, aku diliatin HAHA. Ya mungkin mikir kali ya ini kenapa lewat sini sendiri. Di hutan jati ini banyak monyet keliaran sampe jalan-jalan gitu, HAHA AKU TAMBAH NGERI TAKUT. Pokoknya jalannya sepi, kalau ada yang lewat itupun truk-truk yang gede banget, dan di beberapa titik ada orang-orang yang nglebarin jalan itu yang cukup membuat takut.
NAH INI KENAPA HUTAN JATINYA GAK ABIS-ABIS. Kenapa juga aku jalan terus. Akhirnya sampe di permukiman (agak lega) kayanya di Situbondo, aku berhenti. Agak kalut sih, bisa balik ke stasiun lagi gak ya, dan tanya orang, di mana pintu masuk TNB. Sedihnya katanya pintu masuk itu dari arah datangku. Sdjhsusdiufdhudheidhied. Mau nangis. Artinya aku kebablasan dan harus balik. Ini nglewatin jati-jati lagi? Padahal hutan jati itu panjangnya sekitar 30km. Jadilah aku balik melewati hutan jati lagi. 30km x 2. Agak pelan-pelan di awal karena nyari barengan, akhirnya ada mas-mas boncengan yang terlihat aman, aku di belakangnya. Mas nya ngebut ;’) aku salip sekalian tapi tetap depan-belakangan. Di titik tertentu jaraknya jadi jauh karena masnya ngebut huft. Yaudah lah. Sampe di tikungan, aku masih gak tau pintu masuk TNB, HAHAHA DASAR AKU. Sedikit turun dan tanya orang, naik lagi dan OALAH INI TO sambil memaki-maki diri sendiri.
Langsung masuk dan beli karcis, 1 orang + 1 motor kalau gak salah Rp21.000. Dari pintu masuk ini ke Savana Bekol masih 6 km. Sepanjang perjalanan isinya ya hutan-hutan dan lumayan panas. Kalau beruntung, bisa ketemu hewan-hewan di jalan. Jalannya juga nglewati evergreen forest. Waktu itu di perjalanan ke Savana Bekol cuma ketemu monyet yang sempet menghadang jalan.



Taman Nasional Baluran
SUDAH PASTI PANAS SEKALI YA. Bersyukur bisa sampe TNB dengan aman dan senang. Di Savana Bekol ternyata ada penginapan juga, aku kurang tau gimana prosedur reservasinya.
Parkir motor langsung menuju spot-spot yang sudah aku bayangkan. Parkir motornya bukan kaya di parkiran gitu, jadi bisa berhenti atau parkir di pinggir jalan atau di pinggir savana. Bebas. Pengen foto gak ada yang ngefotoin hahaha. Ada orang sih, tapi gaenak aja. Setelah dari Savana Bekol aku ke Pantai Bama yang jaraknya 3km dari savana. Di Pantai Bama ini cuma bayar parkir aja, parkir motor Rp2.000. Pantainya tenang, bagus, ada tiga gradasi warna, banyak monyet, ada hutan mangrove juga. Masuk ke mangrovenya gratis. Kalau ke TNB wajib juga ke Pantai Bama. 

Pantai Bama dan Dermaga Mangrove      
Dari Pantai Bama langsung balik, sempet berhenti di Savana Bama isinya ya pohon-pohon gitu, panas dan banyak monyet. Di perjalanan balik, liat kijang meski dari jauh, terus di jalan ketemu sama tupai, kupu-kupu, dan burung merak. Ternyata burung merak aslinya bagus banget. Di jalan balik pelan-pelan banget karena berharap ketemu banyak hewan-hewan, tapi ya kurang beruntung. Balik ke stasiun bisa ngeliat Selat Bali lagi, dan kali ini lebih deket. Berhenti sebentar di Patung Gandrung, Watudodol. Bener-bener di pinggir Selat Bali, anginnya gede banget, megang HP harus pake dua tangan. GRADASI AIRNYA BAGUS BGT. Ohiya, sepanjang perjalanan dari homestay di stasiun ke TNB itu lumayan banyak pom bensin.
Selat Bali
Sampe di kota muter nyari makan. Berhentilah di tempat bakso. Sebenernya pengen nyobain rujak soto atau nasi tempong, tapi belum pas aja waktunya, karena meskipun seneng tapi masih agak tegang karena nglewatin hutan jati di awal, jadi makan sedapetnya tempat makan aja. Aku makan bakso + es campur (es campurnya enak banget) + tahu bakso + lontong totalnya Rp21.000
Sampe di homestay stasiun masih siang banget haha, sebenernya pengen ke De Djawatan Culuk tapi udah capek, ya itu gara-gara kesasar kali ya. Malemnya juga gak keluar, karena jalannya lumayan sepi dari stasiun ke jalanan kota. Ya agak gabut sih. Susah sinyal di homestay. Terus packing aja karena jam 5 pagi balik lagi ke Malang. Intinya udah seneng aja bisa ke TNB.
Sampe Malang siang, terus jam 14.25 WIB naik kereta Bima 43 ke Surabaya (Gubeng) dan sampe Gubeng jam 16.24 WIB harga tiketnya Rp60.000 + Rp7.500 (biaya layanan). Di kereta duduk sebelahan sama bapak-bapak, ngobrol ngalor ngidul gitu lah. Dulu beliau ketrima di Kedokteran UNS tapi gak diambil gara-gara gak dibolehin orang tuanya dan akhirnya ngambil diploma ITS (lupa prodinya). Sekarang harusnya udah pensiun dari kerja, tapi dia malah disuruh jadi kepala perusahaan. Bidang apanya lupa. Anak-anaknya juga lumayan sukses. Ya gitulah, sedikit obrolan di perjalanan.
Sampe lah di Surabaya. Jadi kenapa ke Surabaya dan gak balik ke Jogja, aku melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Harusnya berangkat tanggal 5 Juli tapi kehabisan tiket dan berangkat tanggal 6 Juli. Nginep dua hari di Surabaya. Aku nginep di My Studio Hotel Juanda (deket bandara Juanda), ini mirip kaya Woodlot Hostel (bentuk kapsul), harganya Rp90.000/malam (via Traveloka). Karena awalnya cuma reservasi sehari, aku tambah sehari lagi Rp100.000/malam (pay at hotel). Dari Stasiun Gubeng naik ojek online ke My Studio Hotel Juanda. Di My Studio Hotel Juanda lumayan bagus, bersih, AC nya dingin banget, kamar mandi bersih, ada water heater, dapet sarapan, gratis kopi dan teh 24 jam, dan gratis pengantaran ke bandara.




My Studio Hotel Juanda


Di Surabaya gak kemana-mana sih, lumayan jauh juga dari hotel ke kota. Jadi cuma keluar-keluar jalan kaki di sekitar hotel. Tanggal 6 Juli jam 11.00 WIB diantar dari pihak hotel ke bandara dan jam 14.50 WIB terbang ke Banjarmasin.

Di Banjarmasin sekitar 10 hari. Tanggal 16 Juli 2019 pagi sampe di Jogja.

Ya gitulah kira-kira cerita perjalanan kali ini. Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berat hehe. Ohya, jadi perjalanan ini benar-benar membuatku merasa berbeda. Gak bisa dijelasin. Kalo inget suka terharu, gak percaya. Jadi nyiapin apa-apa gitu, misalnya, aku jarang hampir gak pernah pas pergi bawa tisu, tapi kemarin bawa tisu kering, tisu basah, minyak kayu putih, hansaplast, ya sejenis itu. HAHAHA gak penting banget diceritain tapi ini kaya bukan aku aja.

Sekian cerita perjalanan dolan kali ini. Kalau ada yang mau ditanyakan bisa komentar di bawah ya atau hubungi aku di pintaragaluh@gmail.com

Kira-kira perjalanan selanjutnya kemana ya?
Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Comments

Post a Comment

Komentar: